.. Apabila mereka dilemparkan ke dalamnya, mereka mendengar suara neraka yg mengerikan, sedang neraka itu menggelegak,
hampir2 (neraka) itu t'pecah-pecah lantaran marah. Setiap kali dilemparkan ke dalamnya sekumpulan (org2 kafir), penjaga2 (neraka itu) bertanya kpd mereka, "Apakah belum pernah datang kpd kamu (di dunia) seorang pemberi peringatan?" .. (Al Mulk)
Jumat, Mei 28, 2010
Selasa, Mei 25, 2010
Ke-ntah mau bagaimana lagi menyebutnya-an
A'udzubillahiminassyaitoonirrojiiM. Bismillaahirrahmaannirrahiim.
Ada pengalaman yg sangat mengganggu saya (01 Maret 2010). Siang hingga sore itu, sy kluar kantor dg salah satu karyawan. Tiba waktunya shalat ashar, sy ajak mampir ke rest area, shalat dulu sblm melanjutkan perjalanan.
Di mushalla, sy tdk melihat batang hidungnya. Akhirnya saya temukan dia masih di mobil. Seharian itu dia mengaku gejala mau sakit. Saya minta dia shalat, dia menggeleng. Sekali lagi saya minta, dia bilang "nggak ah". "Nggak boleh gitu Lu, shalat sana" saut saya. "Nggak ah, dari pada sakit. Dosa-dosa dah..", katanya pada akhirnya. Saya tertegun, 'dosa-dosa dah?'. "Nggak boleh gitu lu, sakit dan sehat kan yg kasih Allah. Masa lu nggak shalat?", kejar saya lagi. Ketertegunan saya membatu. "Biarin ah daripada meriang", jawabnya lagi.(Jadi menurut dia, kl kena air kondisi kesehatannya yg sedang melemah akan parah lagi. Pdhl dia masih bisa menyetir mobil dg kencang di jalan tol jakarta-kerawang pp.)
Sy mau marah kpdnya! Tapi.. apa posisi saya untuk bisa marah kepadanya? Saya pikir lg, usaha saya memberitahunya sdh sehalus mungkin spy dia mengerti, tapi.. Aargh! Akhirnya saya memang marah!
Saya marah kpd diri saya. Knp begini? Ke-ntah mau bgmn lagi menyebutnya-an terjadi pada lingkungan yg seharusnya ada dalam rangkulan, ring 1 bbrp org menyebutnya. Biasanya orang yang tdk mau akan berdalih dg alasan lain, ngeles-ngeles lah. Tp baru sekali ini ada yg ngomong 'dosa, dosa dah'. Keluar dari mulutnya bahwa dia berani berdosa. Ada di depan mata kepala saya terang2an bulat2, saya punya andil untuk merubahnya, saya punya andil untuk Diminta Pertanggungjawaban oleh-Nya kelak. Berani2nya dia mengkufuri Pencipta-nya dan bilang pula, 'biarin dosa'! Apa tdk takut?.
Berbagai pikiran berkecamuk di kepala saya, hati ini seperti ada bola yg memantul-mantul cepat ke sana ke mari, tdk jelas apa rasanya. Ingin sekali saya boleh marah kepadanya. Bisa menghukumnya. Di zaman Rasulullah, muslim yg tdk shalat akan habis riwayat hidupnya. Lalu kemanakah Allah apakah dia tidak memikirkan-Nya. Saya marah kpd diri sendiri, dan kepada dia tentu saja. Sempat tebersit, kalau saya tdk mau pulang ke Jakarta dengannya. Saya ingin naik bis saja. Saya ingin memperjelas ketidakbenarannya untuk tidak shalat. Tapi apakah itu menjadikannya suatu kekerasan? Sy ingin tetap halus spy dia mengerti. Tapi yg saya dapatkan hanya pikiran dan perasaan diri sendiri yang tdk menentu jadinya! Aaargh!
Akhirnya saya hanya diam, dan mendiamkannya! Mulut ini sepertinya jadi manyun. Saya berharap sekali diamnya saya itu ditangkap olehnya, karena suatu kesalahan dan kesalahannya itu tdk akan bisa diterima. Saya diam sampai ke Jakarta. Turun mobil sy ucapkan terima kasih, krn dia sudah menemani dan mengantarkan sy.. Itupun sy masih berharap, dianggap sbg suatu yg baik.Mungkin kebingungan sy adl pada mau bgmn menyikapinya, mau keras ato tidak. Sy bpikir sebetulnya harus keras, harus keras. Tp bgmn..
Sampai skrg memori itu masih menggundahgulanakan saya. Marah, sedih. Beginikah rasanya. Berat sekali. Mendengar seseorang berani kufur, mengucapkan kekufuran & mengucapkan rela berdosa.
Ampuni hamba ya Allah. Ampuni hamba yg tdk lebih baik dari yang lainnya. Ampuni kami hamba2-Mu.. Ya Allah Yg Menciptakan kami dan kepada-Mu kami kembali. Ampuni kami Ya Allah..
Ada pengalaman yg sangat mengganggu saya (01 Maret 2010). Siang hingga sore itu, sy kluar kantor dg salah satu karyawan. Tiba waktunya shalat ashar, sy ajak mampir ke rest area, shalat dulu sblm melanjutkan perjalanan.
Di mushalla, sy tdk melihat batang hidungnya. Akhirnya saya temukan dia masih di mobil. Seharian itu dia mengaku gejala mau sakit. Saya minta dia shalat, dia menggeleng. Sekali lagi saya minta, dia bilang "nggak ah". "Nggak boleh gitu Lu, shalat sana" saut saya. "Nggak ah, dari pada sakit. Dosa-dosa dah..", katanya pada akhirnya. Saya tertegun, 'dosa-dosa dah?'. "Nggak boleh gitu lu, sakit dan sehat kan yg kasih Allah. Masa lu nggak shalat?", kejar saya lagi. Ketertegunan saya membatu. "Biarin ah daripada meriang", jawabnya lagi.(Jadi menurut dia, kl kena air kondisi kesehatannya yg sedang melemah akan parah lagi. Pdhl dia masih bisa menyetir mobil dg kencang di jalan tol jakarta-kerawang pp.)
Sy mau marah kpdnya! Tapi.. apa posisi saya untuk bisa marah kepadanya? Saya pikir lg, usaha saya memberitahunya sdh sehalus mungkin spy dia mengerti, tapi.. Aargh! Akhirnya saya memang marah!
Saya marah kpd diri saya. Knp begini? Ke-ntah mau bgmn lagi menyebutnya-an terjadi pada lingkungan yg seharusnya ada dalam rangkulan, ring 1 bbrp org menyebutnya. Biasanya orang yang tdk mau akan berdalih dg alasan lain, ngeles-ngeles lah. Tp baru sekali ini ada yg ngomong 'dosa, dosa dah'. Keluar dari mulutnya bahwa dia berani berdosa. Ada di depan mata kepala saya terang2an bulat2, saya punya andil untuk merubahnya, saya punya andil untuk Diminta Pertanggungjawaban oleh-Nya kelak. Berani2nya dia mengkufuri Pencipta-nya dan bilang pula, 'biarin dosa'! Apa tdk takut?.
Berbagai pikiran berkecamuk di kepala saya, hati ini seperti ada bola yg memantul-mantul cepat ke sana ke mari, tdk jelas apa rasanya. Ingin sekali saya boleh marah kepadanya. Bisa menghukumnya. Di zaman Rasulullah, muslim yg tdk shalat akan habis riwayat hidupnya. Lalu kemanakah Allah apakah dia tidak memikirkan-Nya. Saya marah kpd diri sendiri, dan kepada dia tentu saja. Sempat tebersit, kalau saya tdk mau pulang ke Jakarta dengannya. Saya ingin naik bis saja. Saya ingin memperjelas ketidakbenarannya untuk tidak shalat. Tapi apakah itu menjadikannya suatu kekerasan? Sy ingin tetap halus spy dia mengerti. Tapi yg saya dapatkan hanya pikiran dan perasaan diri sendiri yang tdk menentu jadinya! Aaargh!
Akhirnya saya hanya diam, dan mendiamkannya! Mulut ini sepertinya jadi manyun. Saya berharap sekali diamnya saya itu ditangkap olehnya, karena suatu kesalahan dan kesalahannya itu tdk akan bisa diterima. Saya diam sampai ke Jakarta. Turun mobil sy ucapkan terima kasih, krn dia sudah menemani dan mengantarkan sy.. Itupun sy masih berharap, dianggap sbg suatu yg baik.Mungkin kebingungan sy adl pada mau bgmn menyikapinya, mau keras ato tidak. Sy bpikir sebetulnya harus keras, harus keras. Tp bgmn..
Sampai skrg memori itu masih menggundahgulanakan saya. Marah, sedih. Beginikah rasanya. Berat sekali. Mendengar seseorang berani kufur, mengucapkan kekufuran & mengucapkan rela berdosa.
Ampuni hamba ya Allah. Ampuni hamba yg tdk lebih baik dari yang lainnya. Ampuni kami hamba2-Mu.. Ya Allah Yg Menciptakan kami dan kepada-Mu kami kembali. Ampuni kami Ya Allah..
Senin, Januari 18, 2010
Perjalanan ke Cibodas-Cibeureum
.jpg)
.jpg)
Kemarin (Sabtu 16 Jan 2010), saya diajak teman2 SD ke Cibodas. Saya belum pernah ke Cibodas, saya cuma tau itu somewhere di sekitar kawasan Puncak, Jawa Barat. Istri saya begitu tau saya akan ke Cibodas bahkan dengan lenggang kangkung saja, bertanya apakah saya tau Cibodas itu apa. “Di Cibodas itu ada air terjun, ke sana itu gunung!” Itulah jawabannya terhadap ketidaktauan saya..jpg)
Karena setiap harinya saya lebih banyak naik motor, maka saya bawa juga jas hujan dan sepatu bot saya. Persiapan saya ini bisa dibilang jadinya tidak disengaja. Ketidaktauan saya juga dimiliki oleh teman2 saya yang hanya bersiap untuk wisata alam biasa. Satu laki2 teman saya yang ternyata tau banget Cibodas, sudah memberitahukan sebelumnya, namun pesannya itu tdk sampai, apalagi mau berantai .
Hari itu Jakarta diguyur hujan sejak pagi. Kami berangkat melalui Tol Jagorawi, awan gelap menaungi, hujan gerimis kadang mengiringi.. gerimis ini pun lama kelamaan menambah kualitas dan kuantitasnya menjadi hujan yang cukup besar. Memasuki daerah puncak kabut tebal menyambut kedatangan kami. Tebalnya kabut menghilangkan pemandangan kawasan puncak, sudah tidak terlihat apa2 selain putihnya kabut. Jarak pandang pun hanya berkisar 15-20 m. Teman saya yang mengemudi memang punya nyali untuk membawa kami ke daerah sana.
Sampai daerah puncak masih pukul 10, kami memutuskan untuk mampir ke Mesjid Atta’awun di atas sana. Mesjidnya sudah tidak kelihatan lagi, tertutup kabut yang sudah menjadi-jadi tebalnya. Baru kali ini saya benar2 memasuki Mesjid Atta’awun, biasanya hanya melewatinya saja. Selain shalat dhuha, kami sempatkan makan jagung bakar dan minum sekoteng. Jagung bakar hanya sekitar 3 menit untuk kehilangan panasnya, sekoteng panas cukup menghangatkan dada dan suasana. Itu pun tidak tahan kami berlama-lama, lebih baik segera berlindung ke dalam mobil.
Sampai di Cibodas, hujan tetap saja mengguyur seiring keraguan yang mulai mengalir. Kami tidak melihat hutan di atas sana, yang terlihat hanya kabut. Akhirnya diputuskan untuk tetap naik menuju air terjun, karena ya memang sudah sampai di kawasan dan belum ada pilihan tujuan lainnya.
Saya baru tau (lagi).. Air terjun tujuan kami itu berada di dalam kawasan suatu taman nasional, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP / TNGP). Cibodas merupakan salah satu dari 3 pintu masuknya. Benar kata istri saya, saya akan naik sebuah gunung.
Diawali dengan melewati sebuah taman, kami masih santai. Berikutnya kami bertemu jalur mendaki berupa anak tangga dari susunan batu kali.. Kami lihat infonya, air terjun Cibeureum 1 jam. Kami mulai bertanya jauhkah ini? Tak terjawab dan agak tak menghiraukan, kami tetap melanjutkan niat dan tetap berjalan.
Masih dalam satu rombongan. Hujan membuat pendakian menjadi lebih berat, udara gunung yang dingin menjadi sangat dingin. Karena tidak ada persiapan dan ngaco kalo dipikir-pikir, yang mendaki rata2 bersandal jepit, hanya ½ nya yang memakai jas hujan, itu pun jas hujan transparan ala jepang2an. Saya yang berjas hujan lengkap dan memakai sepatu bot, akhirnya memberikan jas hujan saya kepada salah satu teman. Dia sudah tidak kuat menahan dingin dengan hanya kaos polo di badannya.. Ngaconya lagi kami tidak bawa makanan dan minuman, malah ditinggal di mobil di parkiran sana.
Rombongan sudah mulai terpecah.. Paling depan adalah satu laki2 teman saya yang tidak biasa berjalan lambat. Ceritanya dulu sewaktu kecil, dia selalu dipegang dan ditarik ibunya untuk berjalan cepat. Kami tertawa mendengar ceritanya. Saya pilih paling belakang. Dan daripada capek menduga kapan sampai ke air terjun, saya teringat untuk menikmati saja perjalanan.
Data TNGP, rata2 curah hujan per tahun 4000mm, musim kemarau pun hujan turun. Rata2 suhu di Cibodasnya saja adalah 23oC, dipuncaknya bisa turun hingga 5oC. Januari Februari berfrekuensi hujan cukup sering dan disertai angin kencang. (Pas banget dah ketidakpasannya..)
Ditetapkan sebagai taman nasional sejak tahun 1980 luasnya 21.975 Ha. Kawasan taman nasional yang ditutupi oleh hutan hujan tropis pegunungan. Isinya tak terhitung pepohonan dan tumbuhan, habitat berbagai satwa. Terdapat tidak kurang dari 20 air terjun, 3 air terjun di Kawasan Cibodas Cibeureum adalah yang kami tuju.
TNGP menawarkan beberapa jenis pendakian. Yang paling tinggi tentu saja ke puncaknya, itu bisa memakan waktu dalam satuan hari. Kami dan mungkin pengunjung pada umumnya hanya mengambil pendakian mandiri ke air terjun Cibeureum dengan standar waktu 1 jam untuk orang dewasa. Kami yang hujan2an itu dan tanpa persiapan itu mungkin lebih dari 1 jam..
Di tengah perjalanan, kami singgah dan istirahat sejenak di Telaga Biru dan juga Rawa Gajonggong. Keletihan mungkin sudah berbaur dengan ketidakpeduliannya, kami menikmati dan terus berjalan.. Keindahan ekologi hutan indonesia, indahnya pesona alam pegunungan, menyegarkan urat2 saraf yang terbiasa dengan rutinitas kota.
Melewati Rawa Gajonggong, kami berjalan di atas papan2 seperti dek2 di pelabuhan. Cukup menyenangkan, puncak gunung pun menjadi pemandangan. Melewati rawa ini suara air terjun sudah mulai terdengar. Di persinggahan terakhir, tertulis Air Terjun Cibeureum 0,3 Km. Bergegaslah kami menjalani sisa pendakian..
Saya me-record phone video ketika air terjun sudah mulai terlihat, kegairahan sudah melenyapkan keletihan.. Mengundaki beberapa anak tangga, sampailah kami di kawasan air terjun! Ada 3 air terjun di kawasan tersebut, Air Terjun cibeureum 30 m, Cidendeng 25 m dan Cigundul 20 m.
Hujan masih tetap turun. Limpahan air menjadi lebih dahsyat, suaranya bergemuruh! Saya sangat menikmati pemandangan tebing2 dan air2 terjunnya, pepohonan2 di sekitar yang diselingi kabut. Sambil nunggu teman, saya juga mau buang air kecil di toilet :) Ketika kami duduk berkumpul, terbayangkan juga nikmatnya jika masing2 kami makan sebungkus nasi padang di tempat itu :)
Boleh juga perjalanan saya dan teman2 pada hari itu. Terbayar sudah perjalanan kami dengan ciptaan Allah Yang Maha Besar..
“Orang2 yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau Menciptakan ini dengan sia2. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (Ali ‘Imraan)
Herry Hasibuan
Kamis, Desember 03, 2009
Status about
Saya pernah tanya kepada istri, apa siy kira2 pandangan orang terhadap saya, jika status updatenya malah berisi kutipan ayat AlQuran atau pun hadits.
Perkembangan dunia maya saat ini dengan banyak sekali situs jejaring. Banyak orang bisa berhubungan, bisa berkomunikasi secara massal sekaligus, dan sangat terbuka. Yang pada dasarnya digunakan untuk bersilaturrahim, secara fun, secara serius, atau memang akhirnya digunakan untuk tujuan yg sangat serius. Salah satu caranya adalah orang2 bisa memberi tau status mereka masing2, atau untuk mengetahui status teman2 mereka. Pada akhirnya, kolom status ini diisi dengan banyak hal: lagi ngapain, lagi kenapa, perlu apa, kasih tau info, kasih tau pendapat, ngajak apa, ngajak kemana, dan sangat banyak lagi. Nah saya, sering mengisinya dengan kutipan terjemahan ayat AlQuran atau pun hadits.
Dia istri saya bilang, “Kalo orangnya tau lu, maksudnya tau bagaimana lu, ya mungkin positif2 aja. Tapi kalo yang nggak terlalu tau lu, atau setidaknya tau lu hanya yang dulunya aja, mungkin bisa ngebilang lu sok suci. Bisa juga ada yg bilang omong doang” “Tergantung orang yang ngeliatnya siy, ujarnya kemudian..”. “ Ya iya lah!”, kata saya. Memang itu yang lagi ditanya, kira2 apa aja siy pandangan2 mereka..
Dan itu lah memang efeknya, apa yang kamu katakan – apa yang kamu lakukan, bisa menjadi identitas mu. Di lain pihak, saya menyadari dan berusaha untuk selalu membenarkan bahwa kalo yang dilihat itu jangan orangnya tapi perkataannya. Tidak subjektif tapi harus lebih objektif.
Saya utarakan lagi kepadanya (istri), bahwa hal ini berangkat dari keinginan dasar untuk melakukan kebaikan. Saya ingin sekali bisa melakukan sesuatu (kebaikan) yang sangat berarti, maksudnya tidak hanya untuk scope yang kecil tapi juga untuk scope yang lebih besar, scope yang sangat besar, kebaikan yang sangat dahsyat. Contohnya film Pay It Forward, berisi tentang suatu ide yg kemudian menjadi tindakan yg kemudian menjadi gerakan yg menjadi sangat besar, menjadi suatu hal kebaikan yang sangat dahsyat.
Saya pernah utarakan hal ini juga kepada seorang teman, dan saya lumayan tersadarkan pada saat itu. Dia mengingatkan, jangan menganggap remeh melakukan kebaikan kecil. Kecil maupun besar suatu kebaikan yang kita lakukan, kita tidak tau nantinya akan berdampak apa, berdampak bagaimana, berdampak kepada siapa. Malahan yang sudah pasti, setiap yg kecil dan yang besar itu akan diberikan balasannya oleh Allah. Jadi setiap saat (hari2 dan hidup ini) sebaiknya full dengan kebaikan2 yang kita lakukan.
Maka dari itu lah status update saya biasanya berisi kutipan terjemahan ayat AlQuran atau pun hadits. Saya pikir itulah salah satu hal yang saya niatkan menjadi kebaikan, yang saat ini bisa saya lakukan, membagi firman Allah dan hadits Rasulullah kepada lebih dari satu orang dengan cara yang simple dan praktis. Maunya sih, supaya semua orang termasuk yang berada dalam keberuntungan, termasuk yang beriman yang mengerjakan amal saleh, saling nasehat-menasehati dalam kebenaran dan menetapi kesabaran. (Al ‘Ashr).
Salah satu teman SMP (yang sudah lama tdk pernah berhubungan) pernah akhirnya ikut berdiskusi tentang isi status yang saya update saat itu. Ujung2nya dia nanya, “Lu skrg jadi ustadz ya Her?” Hehehe.. “Ya nggak lah, jauuh..”, kata saya, “cuma mau ngamalin surat Al ‘Ashr aja”, tambah saya saat itu. Satu teman kuliah saya, skrg ini kl telepon manggil2nya ustadz. Kemarin2, sy juga bilang kepada satu temen kantor (yang berdiskusi di salah satu update-an status), kalo saya cuma tukang kutip dan tukang bagi2 ayat AlQuran dan hadits.. Hehehe..
Ya nggak selalu isinya ayat dan hadits sih.. Kalau ada something yang interesting, ada sesuatu yang bisa menggelitik, tak ragu lah saya untuk membagi dan meng-update nya. Seperti yang lain juga kan :) Lebih menyegarkan profile dan menyegarkan suasana hari, nggak mau ah dibilang kaku atau bahkan hanya untuk terkesan kaku :) Tetap aja asik dan tentu bisa diajak asik :)
Begitu ya.. Mudah2an kia semua bisa termasuk yang berada dalam keberuntungan, termasuk yang beriman yang mengerjakan kebaikan2, mengerjakan amal saleh, saling nasehat-menasehati dalam kebenaran dan menetapi kesabaran. Di dunia yang sekejap ini, di akhirat besok yang abadi, termasuk golongan kanan, masuk dalam rombongan surga, Diberkahi dan Diridahi-Nya.. Amiin :)
Herry Hasibuan
15 Dzulhijjah 1430H
Perkembangan dunia maya saat ini dengan banyak sekali situs jejaring. Banyak orang bisa berhubungan, bisa berkomunikasi secara massal sekaligus, dan sangat terbuka. Yang pada dasarnya digunakan untuk bersilaturrahim, secara fun, secara serius, atau memang akhirnya digunakan untuk tujuan yg sangat serius. Salah satu caranya adalah orang2 bisa memberi tau status mereka masing2, atau untuk mengetahui status teman2 mereka. Pada akhirnya, kolom status ini diisi dengan banyak hal: lagi ngapain, lagi kenapa, perlu apa, kasih tau info, kasih tau pendapat, ngajak apa, ngajak kemana, dan sangat banyak lagi. Nah saya, sering mengisinya dengan kutipan terjemahan ayat AlQuran atau pun hadits.
Dia istri saya bilang, “Kalo orangnya tau lu, maksudnya tau bagaimana lu, ya mungkin positif2 aja. Tapi kalo yang nggak terlalu tau lu, atau setidaknya tau lu hanya yang dulunya aja, mungkin bisa ngebilang lu sok suci. Bisa juga ada yg bilang omong doang” “Tergantung orang yang ngeliatnya siy, ujarnya kemudian..”. “ Ya iya lah!”, kata saya. Memang itu yang lagi ditanya, kira2 apa aja siy pandangan2 mereka..
Dan itu lah memang efeknya, apa yang kamu katakan – apa yang kamu lakukan, bisa menjadi identitas mu. Di lain pihak, saya menyadari dan berusaha untuk selalu membenarkan bahwa kalo yang dilihat itu jangan orangnya tapi perkataannya. Tidak subjektif tapi harus lebih objektif.
Saya utarakan lagi kepadanya (istri), bahwa hal ini berangkat dari keinginan dasar untuk melakukan kebaikan. Saya ingin sekali bisa melakukan sesuatu (kebaikan) yang sangat berarti, maksudnya tidak hanya untuk scope yang kecil tapi juga untuk scope yang lebih besar, scope yang sangat besar, kebaikan yang sangat dahsyat. Contohnya film Pay It Forward, berisi tentang suatu ide yg kemudian menjadi tindakan yg kemudian menjadi gerakan yg menjadi sangat besar, menjadi suatu hal kebaikan yang sangat dahsyat.
Saya pernah utarakan hal ini juga kepada seorang teman, dan saya lumayan tersadarkan pada saat itu. Dia mengingatkan, jangan menganggap remeh melakukan kebaikan kecil. Kecil maupun besar suatu kebaikan yang kita lakukan, kita tidak tau nantinya akan berdampak apa, berdampak bagaimana, berdampak kepada siapa. Malahan yang sudah pasti, setiap yg kecil dan yang besar itu akan diberikan balasannya oleh Allah. Jadi setiap saat (hari2 dan hidup ini) sebaiknya full dengan kebaikan2 yang kita lakukan.
Maka dari itu lah status update saya biasanya berisi kutipan terjemahan ayat AlQuran atau pun hadits. Saya pikir itulah salah satu hal yang saya niatkan menjadi kebaikan, yang saat ini bisa saya lakukan, membagi firman Allah dan hadits Rasulullah kepada lebih dari satu orang dengan cara yang simple dan praktis. Maunya sih, supaya semua orang termasuk yang berada dalam keberuntungan, termasuk yang beriman yang mengerjakan amal saleh, saling nasehat-menasehati dalam kebenaran dan menetapi kesabaran. (Al ‘Ashr).
Salah satu teman SMP (yang sudah lama tdk pernah berhubungan) pernah akhirnya ikut berdiskusi tentang isi status yang saya update saat itu. Ujung2nya dia nanya, “Lu skrg jadi ustadz ya Her?” Hehehe.. “Ya nggak lah, jauuh..”, kata saya, “cuma mau ngamalin surat Al ‘Ashr aja”, tambah saya saat itu. Satu teman kuliah saya, skrg ini kl telepon manggil2nya ustadz. Kemarin2, sy juga bilang kepada satu temen kantor (yang berdiskusi di salah satu update-an status), kalo saya cuma tukang kutip dan tukang bagi2 ayat AlQuran dan hadits.. Hehehe..
Ya nggak selalu isinya ayat dan hadits sih.. Kalau ada something yang interesting, ada sesuatu yang bisa menggelitik, tak ragu lah saya untuk membagi dan meng-update nya. Seperti yang lain juga kan :) Lebih menyegarkan profile dan menyegarkan suasana hari, nggak mau ah dibilang kaku atau bahkan hanya untuk terkesan kaku :) Tetap aja asik dan tentu bisa diajak asik :)
Begitu ya.. Mudah2an kia semua bisa termasuk yang berada dalam keberuntungan, termasuk yang beriman yang mengerjakan kebaikan2, mengerjakan amal saleh, saling nasehat-menasehati dalam kebenaran dan menetapi kesabaran. Di dunia yang sekejap ini, di akhirat besok yang abadi, termasuk golongan kanan, masuk dalam rombongan surga, Diberkahi dan Diridahi-Nya.. Amiin :)
Herry Hasibuan
15 Dzulhijjah 1430H
Tebusan yang melegenda
Sewaktu hidup, bau badannya sangat khas. Khas baunya itu, menjadi kekurangberuntungan bagi pemilik aroma badan yang disetarakan dengannya. Bagi orang yang mengaku sudah mandi, apalagi yang belum mandi. Jangankan mandi, air pun memang musuh besar baginya, salah satu mahluk darat yang ‘water resistent’.
Allah Yang Maha Adil tak membiarkannya begitu saja dengan kekurangannya tersebut. Spesiesnya ternyata mendapat kebanggaan untuk digembalakan oleh Young Rasulullah. Hingga saat ini menjadi salah satu ternak favorit manusia. Menjadi salah satu pilihan menggiurkan ketika tertera di menu restoran, menjadi salah satu pertanyaan utama “ini/itu apa?” di atas meja makan. Cukup tersohor juga dia, karena namanya dipampang di tempat2 makan kelas tenda hingga billboard restoran ternama.
Ketika sudah digulingkan, sebagian besar orang malah mendekatinya, merapat padanya, di suatu perhelatan apalagi resepsi pernikahan. Ketika orang-orang baru datang, biasanya menjadi yang dicari-cari. Menjadi omongan ketika orang sudah mulai bersantap dengan senyuman. Menelantarkan teman-temannya yang lain, dan terus saja melayani setiap orang yang mengambilnya dengan mata berbinar, liur di bawah lidah pun bisa rembes. Stoknya mulai menipis, orang yang mengantri malah bertambah panjang. Menjadi pencarian sebagian orang yang telah kehilangan jatahnya. Membuahkan kecewa kecil ketika dia telah juara, juara dalam tiada.
Dia meraih angka yang tinggi untuk kategori kalori. Partner yang tepat untuk orang-orang bersemangat, semangat orang-orang yang beraktivitas di luar ruangan, penjaga semangat di dalam ruangan, penambah semangat di bawah selimut. Berhati-hatilah dengannya, mampu menelan korban bagi yang mengkonsumsinya dalam dosis tinggi.. kesehatan menjadi korban.
Salah satu saudaranya mendapatkan kehormatan menjadi tebusan bagi seorang anak, seorang nabi. Menjadi peran pembantu dalam sejarah pengorbanan. Pengorbanan yang memberitahukan arti sebuah ujian, memberitahukan arti berserah diri, memberitahukan kategori orang sabar, orang baik, dan orang beriman. Pujian lah yang diabadikan untuk sang bapak, bapak manusia, Nabi Ibrahim ‘alaihis salaam. Pujian dari orang2 dahulu, yang sekarang, dan yang datang kemudian.
Setahun sekali, mereka menjadi salah satu tokoh utama berhari raya. Anak saya tidak sulit mengenalinya, cukup lah mudah mengenali mereka. Begitu pun anda, anda sewaktu masih anak-anak, dan anak-anak anda sekarang.. Mbee.. begitulah bunyinya.. :)
Herry Hasibuan
Hari pertama tasyrik 1430 H
Allah Yang Maha Adil tak membiarkannya begitu saja dengan kekurangannya tersebut. Spesiesnya ternyata mendapat kebanggaan untuk digembalakan oleh Young Rasulullah. Hingga saat ini menjadi salah satu ternak favorit manusia. Menjadi salah satu pilihan menggiurkan ketika tertera di menu restoran, menjadi salah satu pertanyaan utama “ini/itu apa?” di atas meja makan. Cukup tersohor juga dia, karena namanya dipampang di tempat2 makan kelas tenda hingga billboard restoran ternama.
Ketika sudah digulingkan, sebagian besar orang malah mendekatinya, merapat padanya, di suatu perhelatan apalagi resepsi pernikahan. Ketika orang-orang baru datang, biasanya menjadi yang dicari-cari. Menjadi omongan ketika orang sudah mulai bersantap dengan senyuman. Menelantarkan teman-temannya yang lain, dan terus saja melayani setiap orang yang mengambilnya dengan mata berbinar, liur di bawah lidah pun bisa rembes. Stoknya mulai menipis, orang yang mengantri malah bertambah panjang. Menjadi pencarian sebagian orang yang telah kehilangan jatahnya. Membuahkan kecewa kecil ketika dia telah juara, juara dalam tiada.
Dia meraih angka yang tinggi untuk kategori kalori. Partner yang tepat untuk orang-orang bersemangat, semangat orang-orang yang beraktivitas di luar ruangan, penjaga semangat di dalam ruangan, penambah semangat di bawah selimut. Berhati-hatilah dengannya, mampu menelan korban bagi yang mengkonsumsinya dalam dosis tinggi.. kesehatan menjadi korban.
Salah satu saudaranya mendapatkan kehormatan menjadi tebusan bagi seorang anak, seorang nabi. Menjadi peran pembantu dalam sejarah pengorbanan. Pengorbanan yang memberitahukan arti sebuah ujian, memberitahukan arti berserah diri, memberitahukan kategori orang sabar, orang baik, dan orang beriman. Pujian lah yang diabadikan untuk sang bapak, bapak manusia, Nabi Ibrahim ‘alaihis salaam. Pujian dari orang2 dahulu, yang sekarang, dan yang datang kemudian.
Setahun sekali, mereka menjadi salah satu tokoh utama berhari raya. Anak saya tidak sulit mengenalinya, cukup lah mudah mengenali mereka. Begitu pun anda, anda sewaktu masih anak-anak, dan anak-anak anda sekarang.. Mbee.. begitulah bunyinya.. :)
Herry Hasibuan
Hari pertama tasyrik 1430 H
Kamis, November 12, 2009
Pernikahan dan perahu keluarga
November ini, baru 2 tahun Saya dan Una, istri saya, meninggalkan garis start pernikahan, menaiki perahu keluarga, untuk mengarungi samudera kehidupan baru. Mengarungi samudera, koq kesannya berat banget ya? Yaa.. peran baru lah. Saya sih pengennya asik2 aja menjalaninya, ya InsyaAllah dengan adanya 2 Pegangan itu apa pun bisa dilakoni.
Dulu, waktu masih jadi rencana jadi istri.. Si Una itu diskusi sama saya, apa sih visi dan misi pernikahan nanti. Saya agak2 sadar dan meng –“iya juga ya..”, padahal tadinya cuma ngobrol, nanya kira2 akan ditanya apa aja sama bapak ibunya pada saat saya mengutarakan keinginan untuk dinikahkan dengan anaknya itu.. Inilah sisi serius lain, yang daripada menyegerakan kebaikan, menyegerakan sunnah Rasul, menyegerakan ibadah..
Waktu itu visinya adalah mencari Ridha Allah. Sedangkan misinya adalah membentuk keluarga yang sakinah, mawaddah, dan warahmah. Nggak langsung jadi tuh, Una yang waktu itu ilmu mengenai berkeluarganya sepertinya lebih tinggi dari saya beberapa kali memberikan masukan dan mengadakan perbaikan.
Emang sih ya, apa pun itu, kalau baru mau akan biasanya banyak teorinya. Satu orang teman saya bilang kalo menikah itu harus disegerakan, Sunnah Rasul, Rasulullah menikah sewaktu umur sekitar 25. Satu orang lagi kasih masukan agak bagus, bahwa dua orang yang dinikahkan bukanlah mencari kesamaan, tapi lebih cenderung menerima perbedaan dengan tetap memperbaiki jika ada yang salah. Saya yang waktu itu cuma “Let it flow”, cuma punya pegangan kalo (1) kita harus mensuritauladani Rasulullah, dan saya tau kalo (2) Allah Berfirman di dalam AlQuran bahwa orang yang tidak baik akan mengawini orang yang tidak baik, sedangkan orang yang baik adalah untuk orang yang baik juga (An Nuur). Saya lupa kapan saya benar2 menyadari kalo (3) jodoh itu sudah ada Tulisannya.. jadi ya sebetulnya tinggal jalanin aja, yang wajar2 aja.. Yang terakhir adalah (4) keinginan menikah, keinginan berkeluarga adalah sama halnya dengan keinginan terhadap hal-hal yang lain. Yang akan mewujudkan keinginan-keinginan tersebut adalah Sang Maha Punya, Allah. Jadi syarat standarnya adalah kita harus jadi orang yang layak menerima sesuatu, jadi orang yang pantas diberikan sesuatu. Kita harus mengkondisikan diri kita, mempersiapkan diri kita supaya layak menerimanya, supaya pantas dan siap menerimanya.
Kalau masih punya salah sama Allah, apakah Allah akan Wujudkan keinginan kita. Apalagi kalau masih sering melakukan kesalahan, apakah Allah akan Memberikan apa yang kita mau. Minta maaflah kepada-Nya dan jangan pernah dilakukan lagi, itu bisa jadi langkah pertama yang baik. Yang ke dua berkaitan dengan-Nya adalah perbaiki semua cara ibadah kepada-Nya, pastikan hubungan kita dengan-Nya sudah sesuai dengan juklaknya, sudah sesuai dengan prosedurnya yaitu Sunnah Rasulullah. Hablumminallah dan hablumminannas nya sama-sama diperbaiki. Maka perbaikan yang ke-3 adalah perbaikan hubungan dengan sesama manusia. Kadang kalo saya bingung punya salah sama siapa, yang saya lakukan cuma berdoa supaya punya kesempatan untuk minta maaf, ato setidaknya supaya orang yang saya salahi itu dihapuskan kesalahan2nya. Berdoa untuk kebaikannya. Sedekah, sedekah ini cukup dahsyat. Sedekah sangat berguna untuk memperbaiki hubungan kita kepada Allah sekaligus hubungan kita kepada sesama manusia. Sedekah itu menggugurkan kesalahan2, sedekah itu membantu manusia-manusia yang membutuhkannya.
HR. Al-Bukhari. “Wanita itu (menurut kebiasaan yang ada, pent.) dinikahi karena 4 perkara, bisa jadi karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Maka pilihlah olehmu wanita yang memiliki agama. Bila tidak, engkau celaka”. Perempuan pun biasa melihat laki2 berdasar 4 hal tersebut. Diluar pengetahuan kita kalo “jodoh itu Di Tangan Allah”, jadikanlah hadits di atas sebagai pegangan dalam usaha untuk mencarinya, karena bagaimana usaha pencariannya ini pun akan Dilihat oleh-Nya, Dinilai oleh-Nya. Dari ke4 perkara tersebut, wanita/pria langka yang memiliki ke4-4nya dengan kualitas yang baik, maka lebih umum, lebih banyak wanita/pria yang memiliki kelebihan dan kekurangan. Biasanya yang dilihat dahulu adalah fisiknya.. normal lah ya, wajar. Yang matre (berapa pun kadarnya), akan ngelihat hartanya, kerjanya apa, di mana.. wajar juga koq. Dilihat juga keluarganya, dari mana asal-usulnya, keluarga yang bagaimana sih latar belakangnya, ini pun wajar dan normal saja. Tapi jika kita memilih salah satu faktor sebagai kelebihan yang menunjang pilihan kita, konsekuensinya adalah ada kemungkinan kita dapatkan faktor lain sebagai kelemahan yang mengikutinya. Saya (dan mudah2an kita semua) tidak mau lah menjadikan perkara agama (termasuk budi pekerti didalamnya) sebagai hal yang dilihat terakhir. Agama harusnya dilihat sebagai kelebihan pertama. Dengan hal ini, Insya Allah perahu pernikahan akan punya peta yang akurat, kompas yang asli, dan tujuan yang lebih hakiki. Dulu, (pada akhirnya) maunya saya, saya mau punya (calon) istri yang jilbabnya selebar dan sepanjang mungkin sebagai penilaian agamanya, dan punya kepintaran (IQ) yang dilihat dari sekolah dimana aja dia sebelum2nya, kuliahnya dimana. Satu hal lama yang tetap saya gunakan, orangnya harus nyambung sama saya, kudu nge-klik dan bisa diajak asik.
Sebetulnya kalo sudut pandangnya sudah sama, teorinya sudah sama, sudah seilmu sudah seperguruan, InsyaAllah pernikahan dan pembentukan keluarga akan berjalan dengan relatif lancar. Jadi untuk orang2 yang akan / sedang berlabuh dalam satu perahu yang sama, jika sudah punya tujuan yang sama, cara berlabuh yang sama maka InsyaAllah akan lancar-lancar saja. Dalam Islam, tujuan menikah dan berkeluarga tentu saja termaktub dalam tujuan hidup yaitu mencari Ridha Allah.
Menikah adalah salah satu urusan yang dahsyat, memulainya dengan Nama Allah merupakan akad, perjanjian yang sangat kuat artinya, sangat dalam maknanya. Bukan suatu kegembiraan yang hanya jadi lanjutan dari suatu interest. Bisa saja nantinya perahu menubruk karang, menyenggol perahu lain (nah loh?!), kapal oleng, kapal bocor, bisa saja nantinya terdampar di suatu pulau. Impian perjalanan yang indah menjadi kenyataan yang pahit. Semua penumpang harus tetap memegang janjinya, harus tetap berada di dalam perahunya, istri dan suami berada di sampingnya masing2. Semua tetap berpegangan. Itulah yang ingin Dilihat-Nya, itulah perjalanan pernikahan serta perahu keluarga yang ingin Dilihat Allah, akan Dicatat-Nya sebagai suatu kebaikan.
Apakah perahu keluarga kami berlabuh dengan mulus2 saja? Ya mudah2an aja, seperti kita semua, kan itu maunya setiap orang ya. Namanya juga perahu tentu tidak hanya menjalani air yang tenang. Kadang airnya beriak-riak kecil, kadang bergelombang menantang menaikkan adrenalin, dan mungkin saja akan ada ombak yang besar. Mungkin kita harus sering-sering melihat peta, tetap menggunakan kompas, dan mengatur semua awak serta penumpang yang ada. Banyak belajar dan menikmati pejalanan. ..Tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok.. (Qs Luqman).
Yang laki-laki adalah pemimpin. Nakhoda dalam perahu, imam dalam keluarga. Semua orang berada dalam tanggung jawabnya, semua orang harus mau berada dalam komandonya. Ibu dalam keluarga adalah co-nakhoda, pendamping utama sang imam. Dialah orang ke-2 yang harus didengar juga omongannya. Anak2 adalah awak, penumpang yang harus dibawa hingga tujuan, yang harus dilatih juga agar kelak memiliki perahunya sendiri.
Penumpang keluarga kami baru satu orang, Xerre 14 bulan yang sudah mulai banyak belajarnya. Sekarang sudah bisa jalan ke sana ke mari, sudah mulai juga belajar bicara ini itu. Masih lucu lah untuk ukuran anak balita. Allah telah mengajarkan doa bagi yang mau menikah, bagi yang mau berkeluarga, bagi yang mau punya anak, bagi yang sudah menikah, dan yang sudah banyak anak. Al Anbiyaa’, Ash Shaaffaat, Ali ‘Imran, Al Furqaan.
Jika faktor agama digunakan oleh banyak orang untuk mencari jodoh dan pernikahan, faktor agama dijadikan alasan dalam membuat keturunan, faktor agama dijadikan pegangan dalam membentuk keluarga, dan selanjutnya dan seterusnya dan lainnya, maka akan sangat banyak orang yang berusaha meningkatkan kualitas kuantitas agamaya, Subhanallah ya..
Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa. (Al Furqaan).
Semoga kami (dan juga kita semua tentunya) bisa istiqomah.. bisa membawa perahu rumah tangga ke tujuan pelayaran yang mulia. Mendapatkan Ridha Allah, berkumpul kelak di tempat yang tinggi nan mulia, surga.
Herry Hasibuan
Sabtu, Oktober 10, 2009
Hati-hati paku di jalan
.jpg)

A'uzubillaahiminassyaitoonirrojiim
Bismillaahirrohmaanirohiim
Rezeki apa yang dicari dari penebar paku di jalan. Dimana banyak sekali urusan manusia akan dikerjakan.
Pukul 12.00 sudah dipungut-kumpulkan dalam jarak yang bisa ditempuh berjalan kaki 5 menit. Pukul 15.00 sudah ada lagi, bertebaran lagi. Dan ini jumlah yang cukup banyak dari yang sebelumnya.
Bagi teman-teman pengguna kendaraan, penebaran paku tidak hanya di jalan-jalan kota. Tapi juga dilingkungan perumahan yang cukup ramai, pada akses-akses yang menghubungkan jalan raya besar. Di tikungan, di permukaan jalan yang berlubang kecil, berlubang besar, di tepi aspal-betonnya jalan, sangat disarankan untuk berjalan pelan.Sudah banyak paku-paku yang dikumpulkan, belum termasuk paku-paku yang langsung diamankan ke tempat lain. Bagaimana ya supaya ketangkep itu penebar paku? ..
Peringatan untuk kita. Wahai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan; karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu. (Al Baqarah 168).
Langganan:
Postingan (Atom)
griya madrasah
race to get a rent housing
griya madrasah
rent a beatiful housing 45.000/day
.jpg)